Rabu, 24 April 2013

Nyeri



Konsep Nyeri

Keduanya "harus " dipercayai . Rasa nyeri memang subyektif, sangat individual. Margi (1968) memberikan batasan :. "Pain is whatever the experiencing person says it is, existing whenever he says it does" . Susah menerjemahkan dengan pas, intinya stimulus nyeri yang sama, bisa dirasakan berbeda untuk orang berbeda. Bisa kali, disamakan dengan makan cabe. Saya satu saja sudah kepedasan, lah, sepupu saya, 20 cabe rawit , baru oke !
Sakit atau pada bahasan ini nyeri memang bukan penyakit. Nyeri merupakan bagian dari gejala. Merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Nyeri merupakan gejala yang paling banyak mengantar seseorang berkonsultasi ke dokter.

Mengobyektifkan Nyeri
Nyeri diupayakan menjadi terukur dengan skala. Termasuk disini skala numerik nyeri, visual analog scale yang berupa garis lurus , dan skala wajah. Skala dipergunakan untuk mendeskripsikan intensitas / beratnya rasa nyeri.

1. Skala Numerik Nyeri

Skala ini sudah biasa dipergunakan dan telah di validasi . Berat ringannya rasa sakit atau nyeri dibuat menjadi terukur dengan mengobyektifkan pendapat subyektif nyeri. Skala numerik, dari 0 hingga 10, di bawah ini , dikenal juga sebagai Visual Analog Scale (VAS), Nol ( 0 ) merupakan keadaan tanpa atau bebas nyeri, sedangkan sepuluh (10) , suatu nyeri yang sangat hebat.
Skala Numerik Nyeri


2. Visual Analog Scale

Terdapat skala sejenis yang merupakan garis lurus , tanpa angka. Bisa bebas mengekspresikan nyeri , ke arah kiri menuju tidak sakit, arah kanan sakit tak tertahankan, dengan tengah kira-kira nyeri yang sedang.

Visual Analog Scale (VAS)
Tidak ada rasa nyeri
------------------------------------------------------------
Sangat Nyeri

Anda diminta menunjukkan posisi nyeri pada garis antara kedua nilai ekstrem . bila anda menunjuk tengah garis, menunjukkan nyeri yang moderate / sedang



3. Skala Wajah
Skala nyeri enam wajah dengan ekspresi yang berbeda , menampilkan wajah bahagis hingga wajah sedih, juga di gunakan untuk "mengekspresikan" rasa nyeri. Skala ini dapat dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun.

Skala wajah untuk nyeri
<!--[if !vml]--><!--[endif]-->


Bagaimana menggunakannya?

Seorang pasien, pasca tindakan bedah pada tulang belakang, mengeluhkan rasa nyeri saat duduk atau berdiri. Sakit dinyatakan hampir mendekati 10, menggunakan skala numerik seperti pada gambar di atas. Prosedur awal, diberikan obat disertai modalitas fisioterapi TENS. Nyeri memang hilang saat berbaring , tetapi segera timbul saat duduk ataupun berdiri. Berjalan hanya mampu tiga langkah. Program segera dikoreksi, diberikan laser tenaga rendah / Low Level Laser Therapy (LLLT). Nyeri turun 80 % setelah LLLT pertama. Maka pada pasien ini LLLT diberikan. Pada keadaan tersebut di atas skala numerik nyeri, digunakan untuk penilaian hasil dari suatu tindakan.

Pada kehidupan sehari-hari, skala nyeri dapat digunakan untuk menentukan kapan minum obat penghilang rasa sakit. Untuk obat yang dikatakan bila perlu, minumlah obat bila skala nyeri pada skala 2 (dua). Obat memerlukan waktu untuk dapat bekerja, bila nyeri sudah mencapai skala 4 (empat), sudah sulit untuk dapat segera meredakan nyeri.

Ada kalanya suatu obat harus diminum by the clock, tidak menunggu rasa nyeri timbul, namun untuk menentukan dosis yang tepat, tetap diharapkan dipandu dengan seberapa berat (intensitas) rasa sakit ini dirasakan. Para dokter yang berkumpul pada pertengahan April 2008 yang lalu di Hotel Borobudur, membahas berbagai penyakit Rematik, juga sepakat, untuk menggunakan skala nyeri agar bisa membantu memberikan tatalaksana yang tepat.


Genogram


Anfis Sistem Saraf



Sistem Persarafan

Pembagian susunan saraf:
Ø Susunan saraf pusat
1.    Medula spinalis
2.    Otak
a.     Otak besar
b.    Otak kecil
c.     Batang otak

Ø Susunan saraf perifer
1.    Susunan saraf somatik
2.    Susuna saraf otonom
a.     Susunan saraf simpatis
b.    Susunan saraf parasimpatis
Susunan saraf somatik adalah susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. Susunan saraf otonom adalah susunan sarafyang mempunyai perana penting memengaruhi pekerjaan otot involunter (otot polos) seperti jantung,hati,pankreas,jalan pencernaan,kelenjar dan lain-lain.
      Pusat sel saraf (neuron) terdiri dari sebuah badan sel yang disebut perikarion,berisi nukleus. Di dalam sitoplasma perikarion terdapat badan-badan yang disebut substansia nissel. Dari perikarion keluar prosesus yang menghantarkan rangsangan perikarion yang disebut dendrit, jumlahnya lebih banyak (lebih dari satu). Prosesus yang menghantarkan rangsangan keluar dari perikarion disebut akson. Jumlah akson biasanya hanya satu.
      Simpai mielin yang berlekuk-lekuk disebut nodus ranvier di dalam saraf perifer. Akson dan dendrit tergabung dalam berkas-berkas jaringan ikat disebut endoneurium. Berkas ini tergabung menjadi berkas yang lebih besar disebut epineurium.




·       Otak
Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal.
a.     Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, talamus, serta hipotalamus.
b.    Otak tengah, tegmentum,krus serebrium, korpus kuadrigeminus.
c.     Otak belakang, menjadi pons varoli, medula oblongata, dan serebelum.
           Fisura dan sulkus membagi hemisfer otak menjadi beberapa daerah. Korteks serebri terlipat secara tidak teratur. Lekukan diantara gulungan serebri disebut sulkus. Sulkus yang paling dalm membentuk fisura longitudinalis dan lateralis. Daerah atau lobus letaknya sesuai dengan tulang yang berada di atasnya (lobus frontalis, temporalis, parietalis, dan oksipitalis).

           Fisura longitudinalis merupakan celah dalam pada bidang medial lateralis memisahkan lobus temporalis dari lobus frontalis sebelah anterior dan lobus parietalis sebelah posterior. Sulkus sentralis memisahkan lobus parietalis sebelah posterior. Sulkus sentralis juga memisahkan lobus frontalis dari lobus parietalis.
·       Serebrum
Serebrum (otak besar) merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut fosa kranialis anterior atas dan fosa kranialis media. Otak mempunyai dua permukaan, permukaan atas dan oermukaan bawah. Kedua lapisan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (zat kelabu) yang pada bagian korteks serebral dan zat putih terdapat padaa bagian dalam yang mengandung serabut saraf.

Pada otak besar ditemukan beberapa lobus yaitu:
1.    Lobus frontalis, adalah bagian dari serebrum yang terletak di depan sulkus sentralis.
2.    Lobus parietalis, terdapat di depan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh korako-oksipitalis.
3.    Lobus temporalis, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus oksipitalis.
4.    Oksipitalis yang mengisi bagian belakang dari serebrum.

·       Saraf otak
Susunan saraf terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otakdan melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak, berhubungan erat dengan otot pancaindra mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit.didalam kepala ada dua saraf kranial. Beberapa diantaranya adalah serabut campuran gabungan saraf motorik dan saraf sensorik tetapi ada yang terdiri dari saraf motorik saja atau hanya sensorik saja (mis. Alat-alat pancaindra).

·       Medula spinalis
Bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis vertebralis bersama ganglion radiks yang terdapat pada setiap foramen intervertebralis terletak berpasangan kiri dan kanan. Organ ini mengurus persarafan tubuh, anggota badan serta bagian kepala. Dimulai dari bagian bawah medula oblongata setinggi korpus vertebra servikalis I, memanjang sampai ke korpus vertebra lumbalis I dan II.

Ø Saraf spinalis
              Ada 31 pasang saraf sumsum belakang yang muncul dari segmen-segmen medula spinalis melalui dua akar yaitu akar anterior dan akar posterior. Serabut saraf motorik membentuk akar anterior yang berpadu dengan serabut saraf sensorik pada akar posterior bersama membentuk saraf spinalis gabungan. Penyatuan ini terjadi sebelum serabut saraf itu melintasi foramen intervertebralis, segera setelah itu membagi diri lagi menjadi serabut primer anterior dan serabut primer posterior. Serabut primer posterior melayani kulit dan otot punggung. Sedangkan serabut primer anterior membentuk berbagai cabang yang menjadi pleksus saraf anggota gerak dan membentuk saraf interkostalis pada daerah toraks.
·       Jalur saraf motorik
              Impuls berjalan dari korteks serebri menuju sumsum belakang melalui jalur traktus serebrospinalis atau traktus piramidalis. Neuron pertama yaitu neuron motorik atas memiliki badan sel dalam daerah prerolandi pada korteks serebri. Serabut-serabutnya berpadu erat pada saat melintasi antara nukleus kaudatus dan lentiformis dalam kapsula interna. Neuron motorik bawah yang bermula sebagai badan sel dalam kornu anterior sumsum tulang belakang keluar dan masuk ke akar anterior saraf spinalis lalu didistribusikan ke perifer dan berakhir pada organ motorik.
·       Jalur saraf sensorik
      Impuls saraf sensorik bergerak melintasi traktus asendens terdiri dari tiga neuron:
1.    Neuron yang paling tepi memiliki badan sel dalam ganglion sensorik. Pada ekor posterior sebuah saraf spinalis, cabang sebuah dendrit bergerak menuju perifer dan berakhir dalam satu organ sensorik, misalnya kulit. Sementara akson yang merupakan cabangnya yang lain masuk kedalam sumsum tulang belakang, selanjutnya naik menuju kolumna anterior dan berakhir pada sekeliling nukleus dalam medula oblongata.
2.    Sel neuron yang kedua timbul dalam nukleus tersebut melintasi garis tengah dengan cara yang sama seperti jalur motorik desenden untuk membentuk dekusatio. Sensorik naik melalui pons varoli dan diensefalon guna mencapai talamus.
3.    Neuron yang ketiga (terakhir), bermula dalam talamus, bergerak melalui kapsula interna untuk mencapai daerah sensorik korteks serebri. Traktus asendens menghantar impuls, sentuhan kedudukan sendi-sendi dan getaran sementara yang lainnya menghantarkan impuls sentuhan rasa sakit dan suhu.

Ø Pleksus saraf utama
               Serabut saraf primer anterior pada saraf spinalis tersusun dalam empat jalinan pleksus utama. Pleksus servikalis dibentuk oleh empat saraf servikal pertama letaknya dalam leher dibawah otot sternomastoid. Pleksus brakialis dibentuk oleh empat saraf servikal yang lebih rendah dari saraf torakal pertama, terletak dalam segitiga posterior leher, di belakang klevikula dan aksila.

Ø Saraf ekstremitas atas
              Pleksus brakialis terdapat di atas rongga toraks, merupakan saraf-saraf  segmen servikal IV hingga torakal I membentuk jala saraf yang mempersarafi lengan. Saraf servikal membentuk nervus medianus, mensarafi antara lain otot fleksor lengan bawah yang berfungsi mengetulkan lengan dan jari. Cabang sensoris nervus medianus mempersarafi kulit, telapak tangan mulai dari ibu jari sampai tangan setengah bagian radial jari ke-4.
               Saraf srevikal IV dan torakal I membentuk nervus ulnaris, mempersarafi otot tangan di daerah hipotenar (telapak tangan) pada sisi tulang hasta. Saraf ini mengandung cabang sensoris yang mempersarafi kulit, telapak tangan dari jari ke-5 dan setengah bagian ulna jari manis.

Ø Saraf otonom
              Saraf-saraf yang bekerjanya tidak dapat disadari dan bekerja secara otomatis. Oleh karena itu desebut juga saraf tak sadar. Susuna saraf motorik yang mensarafi organ viseral umum, mengatur, menyelaraskan, dan mengkoordinasikan aktivitas viseral vital termasuk pencernaan, suhu badan, tekanan darah dan segi perilaku emosionil lainnya.
              Sistem saraf otonom bergantung pada sistem saraf pusat dan antara keduanya dihubungkan oleh urat-urat saraf eferen dan saraf eferen ini seolah-olah berfungsi sebagai sistem saraf pusat. Saraf otonom terutama berkenaan dengan organ-organ dalam. Menurut fungsinya susunan saraf otonom terdiri dari dua bagian:
·       Sistem simpatis
Saraf ini terletak di depan kolumna vertebra dan berhubungan dengan sumsum tulang belakang melalui serabut-serabut saraf. Sistem simpatis terdiri dari 3 bagian yaitu:
1.    Kornu anterior segmen ke-1 sampai ke-12 dan segmen lumbalis 1-3.
2.    Trunkus simpatikus beserta cabang-cabangnya.
3.    Pleksus simpatikus beserta cabang-cabangnya

·       Sistem parasimpatis
     Saraf kranial otonom adalah saraf kranial 3,7,9, dan 10. Saraf ini merupakan penghubung, melalui serabut-serabut parasimpatis dalam perjalanan keluar dari otak menuju organ-organ yang sebagian dikendalikan oleh serabut-serabut saraf okulomotorik.
     Saraf simpatis sakral keluar dari sumsum tulang belakang melalui daerah sakral. Saraf-saraf ini membentuk urat saraf pada alat-alat dalam pelvis dan bersama saraf-saraf simpatis membentuk pleksus yang mempersarafi kolon rektum dan kandung kemih.
















DAFTAR PUSTAKA

Syaifuddin, Drs. H. (2001). Fungsi Sistem Tubuh Manusia. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.














Pemeriksaan Fisik 3



STANDARD OPERASIONAL PROSEDURE

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSARAFAN


DEFINISI
Melakukan pemeriksaan fisik pada sistem persarafan yang meliputi : Fungsi Cerebral, Fungsi Cerebellum, Fungsi Nervus Cranialis, Fungsi Sensorik, Fungsi Motorik, Fungsi Refleks, Fungsi Kortikal dan Rangsang Selaput Meningeal.

TUJUAN
1.     Mendapatkan data lengkap untuk menegakan diagnosa keperawatan yang akurat
2.    Membantu individu mengatasi perubahan kehidupan sehari-hari secara efektif dan perawatan diri baik potensial maupun aktual yang disebabkan oleh adanya masalah kesehatan atau penyakit

DILAKUKAN PADA/INDIKASI
Pasien yang mengalami gangguan sistem persarafan

PERSIAPAN ALAT
1.     Refleks Hammer
2.    Peniti dan jarum pentul
3.    Garpu Tala
4.    Snellen Chart
5.    Senter/penligth
6.    Zat pengetes : kopi, teh, kina, gula, garam, jeruk dalam botol khusus
7.    Otoskop dan optalmoskop
8.    Pilinan Kapas
9.    Spatel Lidah
10.  Air panas dan dingin dalam tube atau botol
11.  Uang logam, kunci, gelas, pinsil, sisir,sendok
12.  Sarung tangan jika diperlukan
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSARAFAN


No.
Kriteria Evaluasi
Evaluasi (√ )
Ya
Tidak
TAHAP PREINTERAKSI


1.
Cek catatan perawat/medis tentang kondisi klien


2.
Persiapan perawat dan lingkungan


3.
Siapkan alat-alat


TAHAP ORIENTASI


4.
Berikan salam, identifikasi klien (berkenalan), panggil nama kesukaan dan sapa keluarga klien


5.
Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya


6.
Beri kesempatan keluarga untuk bertanya


TAHAP KERJA


Pemeriksaan GCS


7
Mencuci Tangan



Membuka Mata (E)


8
-       Spontan (4)
-       Terhadap bicara (3)
-       Dengan rangsang nyeri (2)
-       Tidak ada reaksi (1)



Respon Verbal (V)


9
-       Baik tidak ada disorientasi (5)
-       Kacau (bicara dlm kalimat tapi disorientasi waktu dan tempat) (4)
-       Tidak tepat (mengucapkan kata tapi bukan kalimat dan tidak tepat) (3)
-       Mengerang  (2)
-       Tidak ada jawaban (1)



Respon Motorik (M)


10
-       Menurut perintah (6
-       Mengetahui lokasi nyeri (5)
-       Reaksi menghindar (4)
-       Reaksi fleksi (3)
-       Reaksi ekstensi (2)
-       Tidak ada reaksi (1)


11.
Jumlahkan GCS-nya


Pemeriksaan Nervus I – XII


12.
Nervus I (Olfaktorius)



-       Periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau tidak
-       Zat pengetes yang digunakan adalah zat yang sudah dikenal pasien : kopi, teh, tembakau atau jeruk
-       Lakukan pemeriksaan terhadap hidung satu persatu
-       Klien tutup mata, minta klien atau pemeriksa menutup salah satu lubang hidung kemudian klien disuruh mencium salah satu zat pengetes dan ditanya apakah klien mencium sesuatu dan apa yang diciumnya
-       Ulangi untuk lubang hidung yang lainnya
-       Penilaian : normosmi jika bisa mencium semua zat yang dites, hiposmi jika penciuman berkurang, anosmi jika tidak dapat mencium sama sekali


13.
Nervus II (Optikus)



Ketajaman penglihatan :
-       Inspeksi dahulu kedua mata klien terhadap kelainan-kelainan (katarak, rabun, dll)
-       Untuk ketajaman penglihatan jauh gunakan Snellen Chart (jarak 5 atau 6 meter)
-       Klien duduk menghadap tabel dengan jarak 5 atau 6 meter
-       Mata kanan dan kiri diperiksa bergantian dengan menutup sebelah mata dengan tangan klien tanpa menekan bola mata
-       Klien disuruh membaca huruf yang ditunjuk pemeriksa pada tabel Snellen dari atas ke bawah
-       Jika klien dapat membaca baris paling bawah, maka visusnya normal (6/6), jika tidak misalnya 6/20 artinya huruf tersebut harusnya dibaca pada jarak 20 meter tapi pasien membacanya pada jarak 6 meter
-       Jika agak buruk gunakan cara menghitung jari, jika klien menghitung betul pada jarak 3 meter maka dinyatakan dengan 3/60 (60 jarak normal menhitung jari dengan benar)
-       Jika lebih buruk lahi, pakai cara gerakan tangan, missal 3/300, artinya klien dapat melihat gerakan tangan pada jarak 3 meter, yang harusnya gerakan tangan bias dilihat pada jarak 300 meter.
-       Bila hanya bisa membedakan terang dan gelap dengan senter maka visusnya dinyatakan dengan 1/tak-terhingga
-       Dan bila pasien tidak bisa membedakan terang dan gelap makan dinyatakan dengan nol artinya buta



Lapang pandang
-       Klien duduk atau berdiri berhadapan dengan pemeriksa pada jarak kira-kira 1 meter
-       Jika mata kanan yang akan diperiksa, maka mata kiri klien harus ditutup, missal dengan tangan atau kertas, sedangkan pemeriksa harus menutup mata kanannya. Kemudian klien disuruh melihat terus (memfiksasi matanya) pada mata kiri pemeriksa dan pemeriksa harus selalu melihat kemata kanan klien
-       Pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dengan klien. Gerakan dilakukan dari arah luar kedalam,
-       Jika klien melihat gerakan jari tangan klien akan memberitahu ke pemeriksa dan akan dibandingkan apakah pemeriksa melihat juga, jika ada gangguan pada klien, pemeriksa akan melihat terlebih dahulu gerakan tersebut
-       Lakukan pada mata yang lain dengan menggerakan jari tangan kesemua jurusan.



14.
Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, troklearis, abdusen)



Pemeriksaan Celah Kelopak Mata
-       Klien harus memandang lurus kedepan kemudian dinilai kedudukan kelopak mata terhadap pupil dan iris
-       Kelainan-kelaian yang bisa ditemukan : ptosis, enoftalmus, dan blefarospasme, exoftalmus,dll



Pemeriksaan pupil
-       Inspeksi besar pupil mata kiri dan kanan apakah sama (isokor) atau tidak sama (anisokor),
-       Adakah miosis (diameter pupil <2 mm) atau midriasis ( N : 4-5 mm)
-       Inspeksi besar pupil kiri dan kanan (bundar, rata tepinya/N, atau tidak)
-       Inspeksi kedudukan bola mata (exoftalmus atau enoftalmus)
-       Inspeksi posisi bola mata dalam keadaan istirahat (adakah strabismus)
-       Reflex pupil cahaya langsung normal mengecil
-       Refleks cahaya tidak langsung ikut mengecil juga
-       Refleks akomodasi : klien disuruh melihat jauh, letakan jari pemeriksa atau benda dekat mata klien, kemudian klien disuruh melihat dekat, reflex positif jika pupil mengecil



Pemeriksaan Gerakan Bola Mata
-       Posisi klien duduk atau berdiri
-       Klien disuruh mengikuti jari-jari pemeriksa yang digerakan kearah lateral, medial atas, medial bawah, dan kearah yang miring yaitu atas lateral, bawah medial, atas medial, dan bawah lateral
-       Inspeksi apakah mata klien dapat mengikutinya, apakah gerakan lancer dan mulus atau kaku,
-       Inspeksi juga jika ada diplopia,tanyakan kepada klien pada posisi mata (mata) yang timbul diplopia
-       Instruksikan klien untuk menutup sebelah mata, serta tanyakan posisi mana bayangan yang hilang.


15.
Nervus V (Trigeminus)



Fungsi motorik
-       Suruh klien merapatkan giginya sekuat mungkin
-       Palpasi m.masseter, dan temporalis
-       Inspeksi besar tonus serta kontur
-       Suruh klien buka mulut, inspeksi adakah deviasi rahang bawah (insisivus atas dan bawah saat tutup mulut sejajar)
-       Ukut kekuatan otot dengan cara klien disuruh gigit spatel lidah atau benda keras lainnya, kemudian tarik berapa kuat gigitannya
-       Nilai m. pterigoid lateralis : suruh klien gerakkan rahang bawah kesamping kiri atau kanan, atau suruh klien pertahankan rahang bawahnya ke kiri dan pemeriksa member tekanan untuk mengembalikan posisi rahang bawah ke posisi tengah.


Fungsi sensorik
-       Anjurkan klien menutup kedua matanya
-       Gunakan pilinan kapas dan sentuhkan diarea wajah yang dipersarafinya, apakah terasa ada sentuhan atau tidak


16.
Nervus VII (Fasialis)



Fungsi Motorik
-       Inspeksi wajah klien saat diam, tertawa, meringis, bersiul dan menutup mata, catat apakah simetris atau asimetris
-       Klien diminta untuk mengerutkan dahi, kemudian menutup mata kuat-kuat dan jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka, catat apakah normal atau adakah parese
-       Minta klien kembungkan pipi seperti meniup balon, palpasi pipi kiri dan kanan untuk menentukan apakah ada udara yang lolos lewat salah satu sudut mulut
Fungsi Sensorik (pengecap)
-       Siapkan gula, garam dan kina
-       Klien diminta untuk julurkan lidahnya dengan 2 mata tertutup
-       Beri sedikit gula, garam, kina, secara bergantian pada 2/3 lidah bagian depan (dgn tetap menjulurkan lidahnya)
-       Tanyakan rasa apa yang tadi diberikan apakah manis, asin, atau pahit
-       Catat hasil pemeriksaan


17.
Nervus VIII (Vestibulo-Kokhlearis)



Ketajaman pendengaran
-       Telinga klien diuji berganti-ganti dengan mendengar detik arloji diruangan yang sunyi
-       Bandingkan dengan pemeriksa (dianggap normal)
-       Nilai : jika pemeriksa mendengar detik arloji pada jarak 1 meter dan pasien hanya 0,5 meter, maka dinyatakan dengan 50/100 (dalam sentimeter)
Tes Rinne
-       Garpu tala dengan frekuensi 128, 256 dan 512 Hz
-       Getarkan garpu penala
-       Tekankan pangkal garpu tala pada tulang mastoid klien
-       Suruh klien mendengar bunyinya sampai tidak terdengar
-       Jika klien tidak mendengar lagi, segera pindahkan penala di depan liang telinga klien
-       Jika klien masih mendegar bunyi, maka Rinne Positif
Tes Schwabach
-       Garpu tala digetarkan
-       Letakan didekat telinga klien, jika klien tidak mendengar lagi, tempatkan di telinga pemeriksa jika pemeriksa mendengar maka dikatakan schwabach lebih pendek (konduksi udara)
-       Getarkan garpu tala kembali dan letakan di mastoid klien, jika klien tidak mendengar lagi, segera tempatkan garpu tala di tulang mastoid pemeriksa dan jika pemeriksa masih mendengar maka dinyatakan schwabach lebih pendek (konduksi tulang)
Tes Weber
-       Getarkan garpu tala
-       Letakan di puncak kepala atau dahi tepat dipertegahan
-       Suruh klien dengarkan bunyinya serta tentukan telinga mana bunyi lebih keras terdengar
-       Normal : kerasnya bunyi terdengar sama pada kedua telinga
-       Jika bunyi lebih keras pada telinga yang sehat maka disebut tuli saraf
-       Jika bunyi lebih keras pada telinga yang sakit maka disebut tuli konduktif



Tes Keseimbangan dengan tes Romberg
-       Klien disuruh berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya, lengan dilipat pada dada dan mata ditutup
-       Lakukan selama 30 detik
-       Normal : mampu berdiri dengan sikap tersebut selama 30 detik
Tes Keseimbangan dengan Stepping Test
-       Beritahu klien untuk tetap pertahankan posisi ditempat selama tes
-       Suruh klien untuk berjalan di tempat dengan mata tertutup selama 50 langkah dengan kecepatan seperti berjalan biasa
-       Abnormal jika posisi akhir klien beranjak lebih dari 1 meter dari tempat semula atau badan terputar lebih dari 30 derajat


18.
Nervus IX dan X (Glossofaringeus dan Vagus)



Fungsi motorik
-       Observasi kualitas suara pasien apakah normal (disfonia dan afonia)
-       Suruh klien menyebutkan “aaaaaaa”, normal uvula akan terangkat lurus-lurus dan tetap dimedian
-       Klien disuruh menelan air dan memakan makanan padat, lunak perhatikan adakah disfagia
Refleks Faring
-       Suruh klien buka mulut
-       Rangsang (tekan-tekan dinding faring atau pangakal lidah dengan spatel
-       Bila faring terangkat dan lidah ditarik dikatakan Refleks Faring Positif
Refleks Wahing
-       Mukosa hidung klien dirangsang dengan sentuhan kapas, hal ini mengakibatkan timbulnya wahing


19.
Nervus XI (Assesorius)



Otot sternokleidomastoideus
-       Inspeksi ototnya dalam keadaan istirahat (kontur) dan bergerak
-       Palpasi otot : apakah nyeri dan adanya atoni
-       Ukur kekuatan otot : suruh klien menoleh, missal kekanan, kemudian gerakan ini ditahan oleh tangan pemeriksa dan bandingkan yang lain (kekuatan ototnya)

Otot Trapezius
-       Inspeksi ototnya dalam keadaan istirahat (kontur) dan bergerak (apakah ada atrofi, kontur otot)
-       Inspeksi posisi bahu (simetris atau tidak)
-       Palpasi otot untuk mengetahui konsistensi, nyeri serta adanya hipotoni
-       Ukur kekuatan otot dengan cara : tempatkan tangan pemeriksa diatas bahu klien, suruh klien mengangkat bahu dan pemeriksa menahannya, bandingkan kekuatan otot kiri dan kanan (bahu)


20.
Nervus XII (Hipoglosus)



-       Inspeksi lidah dalam keadaan istirahat dan bergerak
-       Istirahat : perhatikan besar lidah, kesamaan kiri dan kanan, atrofi, apakah lidah berkerut, apakah sikap lidah tidak simetris, saat dijulurkan perhatikan simetris atau tidak
-       Ukur kekuatan lidah dengan cara : suruh klien menjulurkan lidahnya lurus-lurus kemudian menarik dan menjulurkan kembali dengan cepat dan perhatikan kekuatan geraknya
-       Palpasi : suruh klien gerakkan lidah kekiri dan kekanan dengan cepat, kemudian tekankan pada pipi kiri dan kanan, pemeriksa merasakan kekuatan lidah tadi


21. Pemeriksaan Kekuatan Otot



-       Paralisis total (0)
-       Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya kontraksi otot sedikit (1)
-       Gerakan otot penuh menentang gravitasi dengan sokongan (2)
-       ROM lengkap/normal menentang gravitasi (3)
-       Gerakan normal penuh, menentang gravitasi dengan sedikit tahanan (4)
-       Gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan tahanan penuh (5)


22. Pemeriksaan Refleks fisiologis



-       Refleks Biseps : Ketukan hamer diatas biseps, Normal bila fleksi siku dan kontraksi otot biseps
-       Refleks Triseps : Ketukan hamer pada triseps, Normal bila ekstensi siku dan kontraksi otot triseps
-       Refleks Patela : Klien duduk, kaki rileks dan ketukan hamer pada m.kuadriseps femoris, Normal bila ekstensi tungkai dan kontraksi otot kuadriseps femoris
-       Refleks Achiles : ketukan hamer diatas tenson achiles, Normal terjadi gerak plantar fleksi pada kaki dan kontraksi otot.






23. Pemeriksaan Refleks patologi



-       Babinski (goresan pada telapak kaki, positif bila dorsoflkesi ibu jari dan pemekaran jari2 lain)
-       Chaddock (goresan lateral maleolus, babinski positif)
-       Gordon (cubit/tekan otot betis, babinski timbul)
-       Oppenheim (urut kuat tibia dan otot tibialis anterior dgn arah kebawah, babinski akan timbul)
-       Gonda (tekan satu jari kaki dan lepaskan sekonyong-konyong, babinski akan timbul)
-       Schaefer (tekan/cubit tendon achiles,akan timbul babinski)


24.
Mencuci tangan


TAHAP TERMINASI


25.
Evaluasi hasil yang dicapai dan jelaskan temuannya


26.
Beri reinforcement pada pasien dan keluarga


27.
Kontrak pertemuan berikut


28.
Mengakhiri pertemuan dengan baik (salam dan terima kasih)


29.
Dokumentasi



Evaluasi : diberi tanda centang pada kolom Ya jika kriteria evaluasinya dikerjakan, dan pada kolom Tidak jika sebaliknya.